Sekilas Dunia Perkomikan Jepang: Dilema Legal dan Ilegal

Berjalan di toko buku, mungkin sudah sering kita melihat bahwa komik jepang seakan memiliki “singgasana” tersendiri dalam dunia literasi Indonesia. Tak bisa dipungkiri, keberadaannya dalam masyarakat Indonesia tak dapat dianggap remeh, bahkan banyak event-event lokal maupun kelas internasional yang dapat dijadikan benchmark mengenai kecintaan masyarakat lokal terhadap kitab suci dunia perwibuan yang satu itu. Manga (bahasa Jepang: 漫画: Manga,ˈmæŋ.ɡə/ atau /ˈmɑːŋ.ɡə/) merupakan komik buatan Jepang yang kebih khusus digunakan untuk membicarakan tentang komik bergaya ilustrasi khas Jepang. Gaya ilustrasi yang tekrenal sekarang ini bisa dibilang sesuai dengan gaya yang dikembangkan di Jepang pada akhir abad ke-19. Penggunaan kata “manga” sendiri sudah memiliki sejarah yang panjang dan sangat rumit di awal Dunia Kesenian Jepang.

Sejak dulu, Jepang memang dikenal menutup diri dari dunia luar, terutama dari dunia barat. Namun seiring perkembangan zaman, mau tak mau Jepang sebagai bagian dari PBB harus mulai membuka diri dan menyalurkan apa yang mereka miliki pada dunia luar maupun sebaliknya. Salah satu kebudayaan sana yang cepat menyebar antara lain terkait dengan dunia animanga yang tentu sudah tak asing lagi bagi kita. Perkembangan teknologi, terutama internet mengakibatkan semua dunia terhubung, berbagai cara untuk menyebarkan konten media semakin tak terbatas, mengakibatkan anime dan manga menjadi hal yang tak lagi eksklusif bagi Jepang. Manga sebagai media cetak merupakan salah satu yang paling cepat menyebar ke dataran lain.

Bicara soal distribusi legal, Manga cepat memasukin negara-negara di luar Jepang dengan harga yang relatif murah dan pengalaman membaca unik membuatnya meledak, populer di berbagai kalangan sesuai genre yang ditawarkan. Keterbatasan sebuah media terjemahan tentu saja jelas: keterbatasan judul dan waktu rilis. Hanya segelintir judul yang bisa menembus pasar asing, sebagian besar hanya menjual cerita yang mudah dicerna dan bisa populer di semua kalangan, sebut saja judul apapun dari majalah terkemuka Shounen Jump. Sebagian besar orang yang hanya sekedar suka baca komik mungkin akan merasa cukup puas dengan ketersediaan judul yang ada saat ini. Namun bagaimana dengan mereka yang memiliki selera niche atau menginginkan judul yang tidak bisa tersedia di negaranya berada (karena masalah sensor misalnya). Jawaban untuk permasalahan tersebut yang baik dan benar antara lain: impor sendiri dari negara luar atau harap-harap cemas judul itu akan diambil penerbit lokal. Namun ada alternatif yang secara hukum di sana melanggar namun tak mungkin bisa dibendung: melalui internet.

Ketika penggunaan internet belum seluas sekarang, bajakan manga di internet merupakan salah satu alternatif “murah” untuk bisa membaca berbagai judul yang kita inginkan. Tak lagi dibatasi sensor dari negara dan komunitas yang sangat masif nan ekspansif membuatnya menjadi salah satu perhatian penerbit-penerbit di Jepang sana. Jepang sebagai sebuah negara yang memiliki kecenderungan xenopobhia pasca perang dunia 2 seakan menutup mata, mereka hanya memedulikan bagaimana penjualan di negara mereka. Penerbit-penerbit yang membeli lisensi asli seperti kebakaran jenggot, mereka tak ingin merugi setelah melihat potensi pembaca yang bisa direnggut. Ketika kalian ditawarkan sebuah hiburan gratis dengan legalitas dipertanyakan dibandingkan hiburan legal yang berbayar, mana yang akan kalian pilih? Orang-orang dengan kepribadian yang menjunjung tinggi hukum pasti memilih pilihan kedua, namun tak dapat dipungkiri bahwa pilihan pertama adalah pilihan menggiuarkan, apalagi ketika hukuman untuk pembaca hampir tidak ada.

Lalu apakah keberadaan manga online itu ilegal? Tergantung melihat dari sisi mana. Secara hukum, kita dikatakan melanggar dan berhak dipidana saat menggandakan sebuah manga dan menyebarkannya tanpa izin. Namun hukum di Jepang tidak memiliki garis batasan yang jelas mengenai hal tersebut. Bisa dikatakan keberadaan manga-manga di situs online berada dalam ranah abu-abu, terutama untuk berbagai manga terjemahan. “Hasil terjemahan” sendiri dilindungi secara hukum otomatis ketika hal itu dilakukan. Namun ketika terjemahan itu didasarkan dari skanlasi manga yang berada dalam ranah abu-abu? bagaimana hukumnya? Entahlah, yang pasti keberadaan ranah abu-abu ini mengakibatkan orang kembali pada nilai etika dalam diri masing-masing. Toh keberadaan manga secara online bisa dibilang sebagai free marketing untuk para penerbit di Jepang sana.

(Visited 43 times, 1 visits today)
Tags:

Sekilas Dunia Perkomikan Jepang: Dilema Legal dan Ilegal – Baca Manga

Berjalan di toko buku, mungkin sudah sering kita melihat bahwa komik jepang seakan memiliki “singgasana” tersendiri dalam dunia literasi Indonesia. Tak bisa dipungkiri, keberadaannya dalam masyarakat Indonesia tak dapat dianggap remeh, bahkan banyak event-event lokal maupun kelas internasional yang dapat dijadikan benchmark mengenai kecintaan masyarakat lokal terhadap kitab suci dunia perwibuan yang satu itu. Manga…